Ekspedisi Perisai Nusantara
Ide ini tercetus di kamar mandi rumah nenek saya. Waktu itu pagi hari, tepat setelah keinginan saya merealisasikan rencana yang sudah saya sesumbarkan ke karib kerabat termentahkan oleh statement mama dan abang saya, di teras belakang rumah tante saya yang menghadap ke Selat Buton, tepat di samping rumah nenek saya.
Rencana yang akhirnya batal mengikut sertakan saya dalam sejarahnya jika teralisasi. Statement sekokoh beton yang muntah pagi itu mementahkan rencana ikut serta saya dalam perjalanan menuju Gunung Kerinci, atap Pulau Sumatra, puncak tertinggi Indonesia setelah pegunungan Papua dengan puncaknya yang bernama Puncak Jaya di timur jauh Irian Jaya. Gunung Tertinggi di Indonesia yang berstatus gunung api aktif.
Telepon genggam Nokia E63 itu saya genggam serta ke kamar mandi rumah di mana saya dilahirkan. Bulat sudah tekad saya mengirimkan SMS konfirmasi pembatalan keikutsertaan saya kepada dua kawan saya lainnya, yang beberapa saat yang lalu di hari yang masih pagi itu saya kabari tentang kesiapan saya menembus Rimba Sumatera bersama. Jauh sebelum obrolan tentang izin saya untuk ikut serta ke Andalas yang berakhir gagal. Ini jelas SMS konfirmasi yang membuat saya harus menjilat basah ludah yang telah berceceran di dunia maya akibat sesumbar jumawa rencana saya.
Ada perasaan bersalah yang mendalam ketika itu. Tapi apalah arti sebuah perjalanan tanpa restu orang tua saya yang kini sudah sendiri. Bapak saya belum lama berpulang sebelum ritual mudik lebaran ke Baubau tahun ini. Pertama kali tanpa beliau. Ada berat tanggung jawab yang tidak bisa saya hindari untuk tetap bersama mama dan adik sepulang ke Makassar, berlama sekian jenak di masa nganggur yang tiada berujung pasti kala itu. Ini tentang tanggung jawab. Di mana moral luhur saya sebagai anak saya letakkan jika harus memaksakan diri ikut serta pada rencana mencapai Puncak Andalas lepas lebaran tahun ini.
Lepas SMS terkirm, pikiran saya campur aduk. Ada lega di sana, tapi saya juga tidak sanggup berdusta di sana juga terbit dongkol. wajar, saya pemuda yang cendrung masih tidak stabil, Labil. Di sela-sela adukan pikiran yang semakin tidak jelas campurannya itu. Terbesitlah ide yang sedikit gila di atas ubin kamar mandi nenek saya yang licin itu. Bukan hanya Kerinci nanti, akan ada Semeru dan Rinjani. Mungkin juga akan menengok Anak Krakatau di Selat Sunda. Bahkan tidak menutup kemungkinan rangkaian perjalanan itu akan saya tutup di puncak Tambora setelah lebih dulu bertemu Agung di Pulau Dewata.
Hari itu pagi-pagi, di kamar yang senang saya sebut tabung inspirasi, di kota Makassar, saya memulai memikirkan rencana saya menjalankan ide yang hampir tidak mungkin bagi saya untuk direalisasikan itu. Mulai bertebaranlah ide-ide ikutan dari induk ide itu. Di tengah kecamuk ide yang semakin mengganas di benak, saya pun mulai mencari kawan yang kira-kira sanggup kebal jiwa hidup susah di perjalanan yang akan panjang itu. Lelah sudah barang pasti yang akan kami telan bulat-bulat demi sebuah pencapaian yang masih saja tidak populis di mata kebanyakan orang itu.
Pencapaian yang sia-sia, atau bahkan bukan pencapaian sama sekali menurut mereka. Tapi menurut saya dan sebagian lainnya, ada hal yang sulit buat digambarkan, dijelaskan. Ada sesuatu yang benar tidak biasa untuk dinikmati. Dan kenyataan memang telah menunujukkan hanya orang-orang yang berada di luar lingkaran ke-biasa-an sahaja lah yang sanggup menikmatinya, menyelami setiap tetes peluh lelah yang mengkristal dalam sebuah pencapaian luar biasa, penuh makna. Tidak berlebihan, hanya orang-orang di luar ke-biasa-an yang sanggup memahami. Orang-orang luar biasa.
Azhyz Maghfur, anak muda Kota Salatiga, yang memiliki nama rimba Teplok di kelompok pecinta Alam Stapala yang sama kami di dalamnya berpredikat anggota, akhirnya membalas obrolan yang saya lontarkan melalui jejaring sosial bermuka buku itu. Tegelontorkanlah semburat ide aneh beserta jajaran ide ikutan yang meluncur deras dari otak saya. Semuanya tampak mudah bagi kami yang memang sedikit berada di luar kewarasan ini. perjalanan panjang yang tidak akan menambah elok rupa wajah kami buat dipandang, lelah yang akan kempiskan buncit perut, virus serta bakteri yang kapan saja bisa berbuah penyakit jika sistem imun kami takluk oleh kerasnya alam, hingga ekstrim medan yang jelas bisa hempaskan kami ke dasar jurang kapan saja.
Tapi akhirnya kami harus sadar diri, status sebagai bukan orang yang berpenghasilan, hanya pemuda penganggur yang senang bebani orang tua dengan biaya perjalanan-perjalanan lintas alam, bangunkan kami dari sempurna khayal ide. Dana ternyata salah satu faktor besar yang menghalangi kami dari keinginan menuntaskan perjalanan ini, selain ridho Allah SWT tentunya. Dana, sesuatu yang harus kami usahakan, demi menjaga bara api semangat mewujudkan ide tetap menyala.
Hari itu beranjak siang, waktu saya pastikan Teplok ada dalam tim. Waktu ketika pada akhirnya sebuah loncatan ide tentang makna perjalanan itu mencuri curah perhatian saya. perjalanan ini kami rencanakan untuk menggapai atap pulau-pulau Indonesia yang berhadapan langsung sekaligus menjadi punggung bagi gugusan pulau-pulau Indonesia dari hempas Samudera Indonesia, Lautan Hindia.
Melalui serangkaian tanya-jawab sendiri dan eksplorasi makna, atau lebih tepatnya menaut-nautkan makna yang bisa dihubungkan demi teraktualisasikan dengan kerennya rangkaian perjalanan kami ini, tercetuslah gagasan menamai perjalanan ini ‘Ekspedisi Atap Perisai Nusantara’.
Waktu berlalu, tapi angan tentang panjang, liku, dan kaya akan pengalaman perjalanan yang akan kami rengkuh tidak bisa lepas dari benak. Saya tinggalkan Makassar untuk kembali ke rantau, rimba beton Ibu Kota siap jadi saksi naik pentasnya anak-anak muda yang sebagian besar masih labil ke panggung Wisuda Lulusan Diploma III kampus Jurang Mangu, panggung yang meresmikan kelulusan para abdi negara di bidang keuangan yang siap menempati pos-pos yang membutuhkan mereka di seluruh wilayah Nusantara.
Saya dan Teplok akhirnya bertemu dan segera memuncratkan sesak ide dalam benak. Sudah ada Erwin Tarzani alias Mantan, jejaka asal Palembang dan juga Tinton Suryahadinata alias Gembes, pemuda asli Magelang, yang resmi bergabung dalam tim yang akan mengawali rangkaian perjalanan ekspedisi dengan asa menggapai puncak kerinci di 3805 mdpl.
Hari itu hari selasa siang, 27 September 2011, sebuah Meja di Plasa Mahasiswa Taman Stapala Kampus Jurang Mangu, serta kawan bernama Faishal Chairu Noor alias Permen akhirnya jadi saksi Soft Launching Ekspedisi Perisai Nusantara. Nama yang lebih bersahabat dan sedikit lebih jauh dari kesan angkuh daripada nama yang mengikutsertakan kata ‘atap’ sebelumnya.
Perjalanan ini merupakan mimpi. Saya harap rencana ini tidak menjadikan kami sosok yang angkuh penantang alam. Ini hanya usaha kami bersahabat dengan alam, yang tanpa kita sadari mengandung banyak sari inspirasi. Dengan usaha mendekatkan diri dengan alam, akan ada daya yang tiada dapat terbendung senantiasa, daya yang akan menggerakkan bibir mengucap syukur kepada Allah SWT atas karunia alam yang elok dan penuh makna bagi setiap mereka yang ingin menggalinya.
Apatah yang lebih indah dari mimpi, yang dengan bebas serta tanpa bea dapat tinggi kita gantungkan di angkasa kehidupan. Akan ada banyak hal menakjubkan pada perjalanan menggapainya kawan. Hanya mereka yang berani yang sanggup untuk mencicipinya. Mimpi itu sesuatu yang benar indah, sesuatu yang hanya akan takluk tidak lain oleh sensasi dan perasaan takjub akan keberhasilan menggapainya.
Kami berharap ekspedisi ini akan tuntas sebelum Januari tiba. Sebelum kami, para anggota tim, harus berpisah jarak, mengemban amanah sebagai abdi negara di bidang keuangan. Siap ditempatkan di mana saja, itu ikrar kami tiga tahun lalu.
Adalah sesuatu yang tidak mudah menjadi salah satu dari kami lulusan kampus Jurang Mangu, di tengah masyarakat yang sebagian besar memandang menjadi kami, abdi negara punggawa keuangan negara, adalah sesuatu yang sangat diidamkan. Gaji tinggi serta keleluasaan memulangkan uang yang bukan hak sering kali mendominasi obrolan kacang rebus kala menghambur balik ke kampung dan bercengkrama dengan kawan. Tidak kenal tua – muda, besar – kecil, semuanya tampak sama dan seragam. Enak betul kau kerja di lahan basah. Nanti bagi-bagi yah. Kurang lebih bgitu kata sebagian mereka yang hingga kini terus terngiang dalam ingatan. Tapi tentu tidak semuanya berujar demikian. Tidak sedikit yang teguh mengingatkan agar tetap berada di dalam jalur yang benar. Orang-orang yang di dalamnya termasuk orang tua dan abang saya.
Ekspedisi Perisai Nusantara. Sebuah perjalanan menapaki kedewasaan, menggali makna kehidupan yang sungguh keras buat mereka yang tidak keras-keras berusaha menghidupi hidup. Sebuah perjalanan yang maknanya nanti kami harap dapat dipakai sebagai pagar diri di tengah liarnya godaan manis culas kehidupan. Sesuatu yang akhirnya kami harapkan menjadi perisai tangguh perjalanan kami menjalani hidup sebagai abdi negara. Punggawa Keuangan Negara.
Amin.
Makassar, hari Sabtu tanggal 3 Desember 2011.
Pagi menjelang siang waktu hujan turun menemani terik matahari yang tetap tumpah menghangatkan bumi yang basah.


sabtu, 3 desember cuy
sudah saya bereskan paman…hahaha
efek nganggur 2 bulan lebih buat saya lupa nama hari sepertinya…
kacau..hahaha
aamiin
jd inget, ibu sy jg pnah nglarang pas sy mau k pulau sebelah.
Tapi lucunya, stelah itu beliau bilang,”Nglarang ky gt, emang tugas dan ego orang tua. Tapi yg ibu nggak boleh lupa, kalau kamu itu beruntung dikasi Allah temen2 yg mau sejalan. Ga semua orang punya itu. Nggak pa-pa sekarang, toh ntar kamu diem juga klo udah kerja+punya anak.”
*restu ibu sy versi ikhlas ga ikhlas, yg jd pegangan sy tiap mo jalan
*
mama…mama…restunya setengah2 waktu mulai jalan ke kerinci sebelum naik pentas kmarin, tapi beliau tetap mendoakan yang terbaik buat si bengal putranya ini…buruk rupa saya pas naik pentas wisuda gara2 rimba sumatera tidak buat senyum beliau terlihat kecut…sungguh manis nian, amboi…
makasih amiiin nya…semoga jadwal bersahabat dengan kami ‘tim kere’ ini menuntaskan ekspedisi…
mendoakan.. semoga sukses ram